Kuburan Siber

 

Di tengah percepatan teknologi digital, internet sering dipahami sebagai ruang yang selalu hidup, terus diperbarui, dan nyaris abadi. Namun, di balik dinamika tersebut, terdapat aspek lain yang jarang dibicarakan: konten yang terlupakan, website yang mati, blog yang ditinggalkan, serta forum daring yang tidak lagi aktif. Buku Kuburan Siber hadir untuk mengungkap fenomena tersebut dengan memosisikan internet sebagai ruang ingatan sekaligus pelupaan.

Buku ini menggunakan metafora kuburan untuk menjelaskan bagaimana jejak digital—yang pernah aktif dan bermakna—perlahan kehilangan visibilitas, relevansi, dan audiens. Dengan pendekatan kajian media dan budaya digital, buku ini membahas bagaimana konten digital diproduksi, diarsipkan, dilupakan, dan pada akhirnya menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai digital remains.

Fenomena “kuburan siber” pada dasarnya merupakan persoalan sosial, kultural, dan teknologi. Buku Kuburan Siber mengajak kita untuk berpikir kritis dalam memahami bagaimana peradaban digital mengelola ingatan, kehilangan, dan warisan data manusia.

Buku Kuburan Siber - Feri Sulianta

 

 


Dr. Feri Sulianta , S.T., M.T.,MOS, MTA,  CPC, CNNLP, CHA, mengawali karirnya pada tahun 2001 sebagai Chief Information Officer, saat ini ia mengajar sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi. Berbagai aktivitas lain  yang dilakukannya: menggeluti peran sebagai life coaching, memberikan pelatihan dan seminar, aktif dalam beberapa komunitas profesi.

Kegemarannya menulis membuatnya didapuk oleh MURI pada tahun 2016 sebagai penulis buku Teknologi Informasi Terbanyak dan pada akhir tahun 2018 LEPRID memberikan apresiasi sebagai Penulis dengan Kategori Buku Terbanyak yakni 19 kategori untuk 88 buku.

Sampai saat ini Feri Sulianta sudah memublikasikan lebih dari  234 judul buku.

 

 


0 Komentar