SEBUAH SURAT YANG DITULIS OLEH SEORANG ANAK FEMINIS, BERJUDUL: From the son of a feminist

Posted by ferisulianta on 12:23 AM
Seorang anak lelaki yang dibesarkan ibu seorang feminis mencurahkan pikirannya yang paling jujur perihal segala daya dan upaya yang dikerahkan sang ibu yang memperjuangankan paham feminisme. Sayangnya, web sumber lansiran sudah tidak lagi bisa diakses, dan penulis sempat mengarsip artikel tersebut dan mendokumentasikannya untuk kembali di hadirkan sebagai ‘pernyataan kejujuran’ dari pihak yang sama sekali tidak memihak sekaligus sebagai bahan introspeksi, silahkan pembaca menilai berdasarkan kepentingan, visi dan misi masing-masing pembaca.

Artikel yang berjudul: Dari putra seorang feminis (From the son of a feminist) ditulis oleh Edgar van de Giessen, dalam suratnya dikatakan bahwa:

Nama saya Edgar van de Giessen. Saya berusia 45 tahun dan saya putra salah satu mantan feminis terkemuka di Belanda pada tahun tujuh puluhan, sang ibu merupakan wanita pertama yang menerima Harriet Freezer Award, yang diberikan oleh organisasi Opzij perihal perannya sebagai aktivis feminis.

Edgar menyatakan bahwa dirinya menulis pernyataan ini bukan untuk mencari simpati pribadi, tujuannya untuk berbagi isi hatinya, sehingga mungkin suatu hari pria dan wanita dapat hidup dalam cinta dan hormat, dan tidak berdasarkan kesetaraan hukum semata. Berikut  isi surat yang diterjemahkan sbb:

Sebelum saya menjelaskan konsekuensi pribadi dari pendidikan feminisme yang saya terima semenjak  usia 7 hingga 17, saya ingin mengungkapkan rasa hormat saya untuk semua perempuan dan laki-laki yang berhak memprotes penindasan dan diskriminasi atas dasar jenis kelamin, warna kulit, atau latar belakang etnis.

Saya ingin Anda membayangkan bagaimana jadinya jika anak di usia sepuluh tahun mendengar setiap hari dari ibunya menyatakan bahwa laki-laki adalah penyebab semua masalah di dunia, bahwa laki-laki bersalah atas semua kejahatan dan perang dan penindasan di dunia, bahwa semua laki-laki harus dikebiri setelah air mani para pria dibekukan untuk memastikan keberadaan generasi berikutnya, bahwa laki-laki harus hidup di kota yang berbeda dari wanita, sehingga mereka semua bisa saling membunuh dan memecahkan masalah mereka sendiri.

Ini adalah jenis pengajaran feminis yang saya terima setiap hari, dan yang menciptakan rasa yang tidak percaya diri yang dalam, pada otoritas laki-laki, dan perasaan tidak pernah bisa menjadi baik atau dicintai sebagai manusia karena kelelakian saya. Hal ini  membuat saya bertindak untuk membuat pembuktian pada ibu saya bahwa saya perbeda dengan kebanyakan laki-laki.Hal ini membuat saya menjadi orang yang angkuh terhadap lelaki lainya, yang membuat saya kesepian dan tanpa teman di hampir sepanjang hidup saya.
Hal ini juga menyebabkan saya benci terhadap perempuan atas kemarahan yang harus saya pendam karena mengungkapkan hal itu akan membuktikan ibuku benar perihal laki-laki. Tekanan ini membuat saya seakan sebagai laki-laki yang sangat baik, padahal jauh di dalam lubuk saya, tersembunyi kebencian untuk menyerang perempuan dengan fantasi perkosaan dan kekerasan.

Ajaran feminis, memberikan efek rabies pada diri saya, dan saya butuh 25 tahun pencarian terapi dan spiritual dan penyembuhan emosional yang mendalam untuk mulai menemukan nilai diri saya sendiri dan mulai mengalami memenuhi hubungan dengan diri saya sendiri, dengan laki-laki dan perempuan.

Perang antara jenis kelamin masih belum terpecahkan. Tingkat perceraian mengungkapkan kebenaran yang menyedihkan pada banyak orang. Kekerasan antara laki-laki dan perempuan masih mengisi surat kabar dan feminisme belum mampu mengatasi masalah ini. Dalam kasus pribadi saya, feminisme itu sendiri, sebagian besar menciptakan masalah-masalah baru dan justru sama sekali tidak mencegah masalah. Dan jika feminisme menyebabkan pria membenci wanita, seharusnya feminis bertanya pada diri sendiri, cukup sadarkan hati manusia untuk memberikan jalan keluar dari sekelumit problematika manusia?

Ketika ibu saya memberikan ceramah feminisme dan kemarahannya kepada saya sebagai anak laki-laki, saya berpikir apakah ia tidak pernah berpikir bahwa kata-katanya dan energi kemarahan itu menghujam anaknya sendiri? Luka emosi atas perlakukan ibu saya tidak hanya dikarenakan kata-katanya, tetapi juga dalam dirinya yang “tidak berperasaan” bahwa berdampak merusak kepada anak lelakinya. Dengan caranya, ibu saya telah melukai emosinya sendiri yang juga mengubahnya menjadi seorang wanita pria membenci, ia justru  bangga sebagai feminis yang yang antipati terhadap laki-laki. Alhasil, saya menjadi pembenci diri sendiri dan juga pembenci wanita.

Yang ingin saya katakan, adalah bahwa meskipun dalam beberapa aspek feminisme memiliki peran penting dalam menciptakan persamaan hak bagi perempuan, feminisme tidak memiliki kontribusi positif bagaimana pria dan wanita dapat hidup dengan penuh rasa hormat dan cinta. Didikan ibu feminis justru membuat saya berperilaku sebaliknya. Saya percaya bahwa seorang pria yang sehat secara emosional tidak akan pernah memiliki keinginan untuk menindas perempuan. Seorang wanita sehat secara emosional tidak akan pernah memiliki keinginan untuk memukul pria.

Feminisme dimasa tujuh puluh hingga delapan puluh-an, meupakan gerakan yang sangat reaktif yang mengobarkan kekuatan yang menindas, melakukan perlawanan, alih-alih bekerja sama dan merangkul untuk menanggulangi masalah nyata, maka dari itu feminisme tidak pernah bisa sukses dalam menciptakan suasana di mana cinta dan ‘kekuatan feminin’ berkembang dalam suasana saling percaya dan menghormati bersamaan dengan ‘kekuatan laki-laki. Saya merasakan dan memahami bahwa wanita hanya bisa menghormati kekuatan laki-laki jika yang hal ini timbul dari hati yang terdalam, tapi feminisme dan gerakan emansipasi gagal untuk mendukung  munculnya generasi pria semacam itu dan  bahkan tidak memiliki sarana untuk melakukannya.

Dengan cara itu, gerakan feminisme tidak dan tidak dapat mengakui fakta bahwa setiap laki-laki dibesarkan di sebagian dalam asuhan seorang wanita, dan bahwa hubungan sang laki-laki tersebut dengan wanita kelak, sebagian besar dipengaruhi oleh hubungan-nya dengan sang ibu. Mengapa feminisme tidak mencetusakan visi misi guna membesarkan anak laki-laki menjadi pria yang penuh kasih dan kuat, yang pada wanita bisa percaya dan merasakan cinta? Yang terjadi justru, anak laki-laki berubah menjadi laki-laki yang menindas, benci atau tidak menghormati wanita. Saya yakin, bahwa jika anak laki-laki menerima cinta kasih seorang ibu’ hal ini tidak akan terjadi!
Ini arti bahwa, feminisme selalu kekurangan pengetahuan yang seksama perihal kesehatan emosional, bahwa cinta yang sehat dapat ditularkan dari satu hati manusia ke manusia yang lain, dari ibu kepada anaknya, dari ayah kepada anaknya, dari laki-laki terhadap perempuan dan dari perempuan kepada laki-laki .

Tanpa visi tersebut, yang dikarenakan kebutaan dari feminisme  akan hati manusia, terlepas dari jenis kelamin, feminisme hanyalah gerakan reaktif belaka dengan ajarannya yang salah, dan sayangnya, feminisme  tidak akan pernah mencapai tujuannya.

Diterjemahkan dari surat yang ditulis oleh: Edgar van de Giessen (Sumber lansiran: http://brightage.net/storage/articles/son-of-a-feminist.html)

Sumber asli:

SEBUAH SURAT YANG DITULIS OLEH SEOARANG ANAK FEMINIS, BERJUDUL: From the son of a feminist
My name is Edgar van de Giessen. I am 45 years old and I am the son of one of the former leading feminists in Holland in the seventies of the last century. My mother was the first woman to receive the Harriet Freezer Award, given out by your organization Opzij for outstanding feminist activism.

I do not write this to seek any personal sympathy. I write this to share my heart, so that maybe one day men and women may live in love and respect, and not just in mutual legal equality.
Before I describe the personal consequences of the feminist upbringing I received as a boy between the age of 7 and 17, I want to express my respect for all women and men who rightfully protest against repression and discrimination on the basis of gender, skin color, or ethnic background.

Therefore I would like you to imagine how it is for an growing boy in the age of ten to hear every day from his mother that men are the cause of all trouble in the world, that men are guilty of all crime and war and repression in the world, that all men should be castrated after their semen has been deep-frozen to ensure the existence of the next generation, that men should live in different cities than women, so that they could all kill each other and so solve the problem of their own existence.

This is the kind of feminist teaching that I received every day, and created in me a deep mistrust in myself, in male authority, and a feeling of never being able to be good or lovable as a human being because of my maleness. This caused in me a reaction of proving my mother that at least I as her son was different than other men. This quickly turned into arrogance against other men that made me lonely and bare of friends for most of my life.

It also caused in me a hate toward women and an anger that I could only repress, because expressing it would prove my mother to be right. This repression thus turned me into a "nice" man as a compensation for the repression who then inevitably held a hidden hate and aggression against women with fantasies of rape and violence.

As a result of all of these effects of a rabid feminist's effect on her son, I needed 25 years of therapeutic and spiritual search and deep emotional healing to begin to find my own self-value and to start to experience fulfilling relationships with myself, men and women.

The war between the sexes is still unsolved. Divorce rates speak their own sad truth. Violence between men and women still fills the newspapers and feminism has not been able to solve this problem. In my personal case, feminism itself, as it is expressed in ways your organization specifically espouses, in large part created the problems and not prevented them. And if feminism causes men to hate women by cursing the darkness and not lighting an effective candle, feminism needs to ask itself if it is aware enough of the human heart and its complexity to be able to solve the problems it describes.

When my mother was giving her feministic lectures and tirades to me as a boy, she never felt once, in all those years, how her words and energies were landing in her own son. Personal love transacts through the ability to feel what the other person is feeling while (s)he is feeling it. The emotional wounding that my mother gave me did not come only from her words, but also in her not-feeling how her words impacted me as a little boy. In these ways, my mother had her own emotional wounding that turned her into a proudly man-hating, feministic unfeeling woman whose antipathy against men in ways supported by your organization turned in me as a hate against myself and against women.

What I want to say, is that however some aspects of feminism have an important role in creating equal rights for women, feminism does not have a positive contribution to how men and women can live in respect and love for each other. My intensive feminist upbringing created exactly the opposite. An emotionally healthy man will never have any wish to oppress a woman. An emotionally healthy woman will never have any wish to beat the man with his own weapons.

The feminism of the seventies and eighties whose legacy you inherit is a reactive movement that used the same oppressive energy as it was trying to fight against, instead of working with, the real issues, and therefore can never be successful in creating an atmosphere where loving and powerful femininity could blossom in a trusting and respectful atmosphere towards male strength. I do feel and understand that women can only respect male strength if that is rooted in openhearted vulnerability, but feminism and the emancipation movement failed to bring forth a generation of such men and in itself does not have the means to do so.

In that way, the feministic movement does not and cannot acknowledge the seminal repercussions of the fact that every man is raised in large part by a woman, and that his adult relationship to women consciously and unconsciously is determined in this large part by his relationship to his mother. Why hasn't feminism created a vision on how to raise boys into loving and strong men, upon whom women can trust and love? How can it happen that boys turn into men that repress, hate, despise or do not respect women? I am convinced, that if a boy receives healthy emotional love from his mother, this cannot happen!

It that sense, feminism has always lacked a vision of what emotional health is, how emotionally healthy love can be transacted from one human heart to the other, from mother to son, from father to daughter, from man to woman and from woman to man.
Without this vision, whose lack can never be addressed within the myopia feminism has about the human heart, regardless of gender, feminism remains a mere reactive movement that thus incorporates the very themes in men it teaches are wrong, and sadly will never allow it to ever achieve its own purpose.

Sincerely,
Edgar van de Giessen